Kamis, 19 Agustus 2010

Fiksi Nyata : Pengalaman pertama bertemu Dodi (The Malingers Version)



Seperti yang telah terjadwal, hari ini adalah hari pertama kami selaku mahasiswa baru untuk bertemu dengan penjagal, eh salah, abang dan kakak senior maksudnya. Aku yang berasal dari Tinjowan, sebuah desa kecil nan permai di ujung utara provinsi palm oil ini bener-bener tidak punya teman di Medan yang bisa diajak ngobrol kecuali seorang teman SMA ku yang bernama Daniel ---belakangan lebih sering disebut Rian karena potongan wajahnya agak mirip dengan seorang vokalis di salah satu band kondang Indonesia ,apakah D’Passive atau D’aktive aku kurang paham…yang jelas dia bukan dari Jombang---. Ya Alhamdulillah kami diterima di jurusan yang sama. Tapi karena kami berdua sama-sama buta arah, ya jadilah pertemuan kami tidak bermakna.


Siang itu cukup panas, namun sinar matahari tidak bisa seenaknya menyengat karena harus berhadapan dengan barisan tepi-tepi dedaunan kelapa sawit tempat kami bernaung. Semua mahasiswa baru di Fakultas Pertanian hari itu dikumpulkan perjurusan untuk dibantai dan dimutilasi, kemudian dagingnya dikumpulkan dan dihancurkan dalam mesin penggiling, hingga akhirnya dijadikan pupuk organik (lho?). Bukan, kami dikumpulkan untuk sekedar perkenalan dan temu perdana. “Dek…keluarkan selembar kertas dan tulis biodata kalian ya, abis itu kumpulin ke abang” Ceracau salah satu senior kami dengan suara khas serak-serak basahnya. Spontan aku keluarkan pulpen dan secarik kertas binder yang aroma barunya semerbak kemana-mana.

Tiba-tiba dari lini kiri ada yang colek-colek. “Eh bang, punya pulpen dua gak? pinjem lah” ku tolehkan muka dan ternyata suara keriting itu keluar dari kerongkongan seorang berwajah pucat pasi dan berpipi tirus yang rambutnya ikut-ikutan keriting kayak suaranya. Sambil tersenyum-senyum secara tidak jelas dan entah apa maksud dari senyuman itu, dia kembali mencolekku. Ih, daripada colekan itu berlanjut hingga ba’da Isya, lebih baik aku segera memberikan barang yang dituntutnya. Baru setelahnya kami berdua berjabat tangan, “Dodi.” “Oh, saya Khairil, cukup panggil Iril saja”. * Sejarah ukhuwah kami pun bermula dari sini.

(Setelah menulis ini aku baru ngeh, ternyata sampai sekarang si Dodi belum ngembaliin pulpenku…Dasaaaar maling…ers).

2 komentar:

  1. hahaaha...blognya dodi pratama bukan????
    ini tuh kisah saya dengan beliau.....(^0^)

    BalasHapus


bosch dishwashers