Kamis, 19 Agustus 2010

Pendidikan adalah Wadah Pencetak Peradaban


"Wahai orang-orang yang ingin terbebas dari segala mara bahaya dan yang ingin beribadah dengan benar, kita harus membekali diri dengan ilmu . Sebab, beribadah tanpa bekal ilmu adalah sia-sia, karena ilmu adalah pangkal dari segala perbuatan. Hendaknya kita memusatkan perhatian dan pikiran hanya hanya untuk ibadah dan ilmu. Jika sudah demikian, kita akan menjadi kuat dan berhasil . Karena berpikir selain untuk ibadah dan ilmu adalah bathil dan sesat, hanya hanya akan menghancurkan dunia. (Imam Al-Ghazaly)


Betapa eksistensi sebuah negara sangat bergantung dengan orang-orang yang mengelolanya. Sebuah negara dengan peradaban yang tinggi dan bermartabat hanya akan terbentuk melalui tangan orang-orang berilmu. Dalam hal ini, dunia pendidikan merupakan dunia yang memiliki andil besar dalam mencetak orang-orang tersebut. Nah, Apa jadinya jikalau negara kita dipimpin oleh orang-orang yang tidak pernah mengecap pendidikan? Mungkin anak kita hanya akan mengetahui bahwa dulu di bumi ini pernah ada sebuah negara yang bernama Indonesia lewat buku-buku sejarah. Untuk itu, mari kita samakan persepsi dulu, bahwa pendidikan adalah sesuatu yang sangat penting dan senantiasa harus kita perhatikan.


Menilik potret pendidikan Indonesia saat ini, patutlah kita mengajukan pertanyaan sekali lagi, apakah tujuan pendidikan dan output pendidikan sudah seperti yang diharapkan. Faktanya, APBN yang dianggarkan sebesar 20% untuk pendidikan ternyata belum berdampak nyata bagi pemerataan pembangunan pendidikan Indonesia. Hak-hak yang diperoleh peserta didik di daerah Jakarta dengan di Irian Jaya masih jauh berbeda. Berikutnya, baru-baru ini pelajar SMA di Indonesia baru saja menerima hasil pengumuman Ujian Nasional. Jumlah peserta didik yang tidak lulus UN di tahun 2010 ini, yakni 154.079 siswa, bukanlah menjadi satu-satunya ukuran berhasil tidaknya para pelajar kita dalam menempuh pendidikan. Apakah proses dalam mengikuti Ujian Nasional sudah mencerminkan nilai-nilai pendidikan? Ironis sekali jika ternyata untuk mendapatkan sebuah nilai di atas kertas, pelaku pendidikan rela berbuat maksiat atau kecurangan. Konsekuensinya, korupsi pada saat ujian menjadi hal yang lumrah. Dikhawatirkan tindakan ini akan terus mengakar pada jiwa generasi yang akan memimpin negeri ini di masa depan. Ini barulah contoh kecil, ibarat gunung es yang bagian terbesarnya tidak terlihat di permukaan.


Mari kita telaah sejenak beberapa perspektif Al-Qur’an mengenai pendidikan. Allah meninggikan derajat manusia yang berilmu beberapa derajat dari orang yang tidak berilmu (Al-Mujadillah : 11). Allah berfirman dalam Q.S Adz-Zariyat : 56 yang artinya :

Tidak Ku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku”

Menuntut ilmu yang bermanfaat adalah salah satu bentuk ibadah kepada Allah. Jelas bahwa dalam beribadah kepada Allah diharamkan menyusupkan tindakan kemaksiatan. Oleh sebab itu, Islam dengan tegas melarang berlaku curang saat proses menuntut ilmu. Namun, jika kita saksikan sekarang ini, siswa bahkan mahasiswa masih banyak yang mencontek saat ujian. Tentu saja tidak ada lagi nilai-nilai ibadah yang mereka dapatkan, meskipun terlihat mereka sedang belajar.


Mengenyampingkan akhlaq dan moral serta hanya menomorsatukan nilai merah-biru di atas kertas dalam menuntut ilmu hanya akan melahirkan jiwa-jiwa hedonis. Sebuah mega peradaban hanya akan muncul dari tangan-tangan insan intelektual berakhlaqul karimah. Roda kehidupan akan selalu berputar. Yang di bawah tidak akan selalu di bawah. Tinggal masalah waktu yang akan menggulngkan fakta saat ini.

1 komentar:

  1. Saya senang sekali dengan tulisan yang ini, judulnya menarik "Pendidikan adalah wadah pencetak peradaban"...

    BalasHapus


bosch dishwashers