Kamis, 19 Agustus 2010

Fiksi Nyata : Pengalaman pertama bertemu Allva (The Malingers Version)


Seperti biasa, kami pemuda botak dan pemudi tidak botak dikumpulkan di sekret himpunan mahasiswa untuk sekedar membenarkan tingkah norak senior-senior norak. Setiap hari kami serempak membacakan konstitusi konyol buah karya si fulan,“Pasal 1…Senior tidak pernah salah…Pasal 2..jika senior salah, kembali ke pasal 1…pasal 3…junior milik senior !” tuh apa ku bilang, norak banget kan? Kalimat barusan adalah kalimat yang membenarkan apa pun kesalahan dari senior, dan yang paling kelewatan adalah pasal 3. Ironis sekali bahwa kami, para junior yang masih polos ini harus rela dimiliki oleh senior-senior yang sudah tidak polos itu *lebay mode : ON ^^


Hari itu aku duduk bersebelahan dengan seorang pria berkacamata, berambut botak berombak-ombak, berpandangan tajam, dan sedikit gempal. Ada perasaan sedikit segan untuk berkenalan dengannya. Tapi ya namanya juga sesama muslim kan bersaudara,tak kenal maka ayo Ta’aruf. Akhirnya aku memberanikan diri untuk berkenalan dengan sosok pria serius ini, “Hey, namaku Khairil”. Dia balas seperlunya, menjabat tanpa menoleh,” Allva Arindya”. Wah, benar-benar profil pria yang serius, semakin segan saja untuk berkenalan lebih lanjut dengannya. Tapi aku berusaha membuat suasana jadi lebih cair,”mmm..kau asal SMA mana?”. Lagi-lagi dia balas dengan lebih singkat dan lebih pelan, seolah sangat menghemat kata-kata,”Smansa Tebing”. Aku masih terus mencoba merenyahkan suasana,” Hmmm, kawanku ada lho di sana, namanya Ilham, kau kenal dia gak?” “…” kali ini hening tanpa jawaban. Aku membatin wah, bener-bener ujian yang lumayan berat, aku harus satu jurusan dengan orang sedingin ini. Akhirnya aku memutuskan untuk memposisikan diri kembali menghadap depan, saat itu pula aku sadar bahwa para senior sudah melotot ke arah kami berdua. Aku baru sadar, ternyata Allva bukanlah tipikal orang sombong, bukanlah tipikal orang yang cuek, dingin, apalagi keren. Ternyata oh ternyata dia sedang ketakutan karena dipelototin senior. Ya Allah…betapa polosnya aku.


Walhasil aku digotong oleh senior yang dari tadi sudah seperti kuda lumping kesetanan. Lelaki gondrong dan kurus luar biasa itu bernama Ucok (nama samaran). Aku dibopong seperti ayam sakit ke laboratorium sebelah untuk dikarantina lebih lanjut. Di sana aku dikerjain habis-habisan oleh Ucok yang semoga Allah mengampuni dosanya. Katanya,”Eh boy, nanti kalau kau ku panggil ‘Khairiiil’…kau harus maju ke depan kawan-kawanmu sambil goyang gergaji ya” katanya dengan wajah licik sambil bergoyang ala artis dangdut tidak berpapan itu (tadinya sih papan atas, tapi karena terkena goyang gergaji, papannya jadi hancur berkeping-keping…halah ^^). Jujur, saat itu aku mau muntah lihat Ucok bergoyang seperti gitu, persis seperti banci dangdutan. Aku hanya diam seolah tak percaya, seakan langit runtuh menimpa wajahku.


Karena tidak ada perlawanan yang berarti dari ku, akhirnya aku dikembalikan ke tempat kawan-kawanku yang lain berkumpul. Seperti biasa, di ruangan itu mereka sedang dibentak-bentak. Tiba-tiba dari arah pintu Ucok langsung teriak dengan nada pasti,” Khairiiiiil”. Aku masih duduk terpaku,”Wah, dasar kampret nih orang” batinku. Dari sebesar botol sampe setinggi tiang PLN gini aku belum pernah goyang dangdut, apalagi yang jenis sharp-skill seperti goyang gergaji dan ngebor. Terlebih lagi dari dulu aku gak pernah suka sama aliran bang Rhoma ini. Astaghfirullah…”makan dah tu gergaji ! Sampe rambut 2 centiku jadi 2 kilometer juga aku gak bakal mau”, batinku masih ngomel tidak karuan. Dipanggilnya lagi “Khairiiiil !!!!”. Tetap aku tidak bergeming. Lantas dia datang ke arahku (yang masih botak saat itu) dengan langkahnya yang pongah. “Kau melawan ya Boy? Dah hebat kau rupanya?” bentakannya menyapu rambut jarum 2 cm ku. Aku menjawab lirih “enggak bang…”. “Bah…melawan kau ya…sok hebat kali kalian semua ya ?!” kawan-kawanku jadi ikut-ikutan kena batunya. Semua senior pada teriak-teriak gak jelas sambil menendang pintu lemari dan pintu di ruangan sempit itu. Jelas suara mereka memantul-mantul dan masuk ke telinga kami dengan frekwensi yang tidak nyaman di dengar.


Berang juga rasanya. Tapi ya, badai pasti berlalu. Coba tarik hikmah dibalik perbuatan mereka. Setidaknya dari sana aku berazzam bahwa aku tidak akan pernah memperlakukan adik-adikku seperti apa yang mereka lakukan kepada kami. Itulah kisah pertemuan berdarah ku dengan Allva…sungguh tragis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar


bosch dishwashers