
Hari ini… di satu-dua sisa usiaku…
masih nyata terbenak…
bidangnya bahuku memanggul senjata…
masih nyata terdengar…
kecipak geliat tubuhku menyeruak lumpur rawa baya…
“Cepat!!! Atau kalian akan mati tertembak…!!!!
Pasti indah melihat anak cucu kalian mewarisi negeri ini… !!!”
Membahana komando garda depan…
Itu jeritan iming-iming sang Jendral…
tak ayal…semakin gesit merayap…
semakin licin aku melata…
bak sura memburu baya…
yang menyeringai menikmati pertempurannya…
Kita pasti menang…kita pasti merdeka…
Merdeka bersama iming-imingmu Jendral…
Hari ini…di satu-dua sisa degub jantungku…
aku telah meraih iming-imingmu…
Dulu… sebelum meriam penjajah memisah-misah badanmu….
ada baiknya kau habisi aku dulu…
harusnya aku yang menggantikan posisimu menerjang hujan peluru…
atau kau tembak kedua mataku dulu Jendral !
lebih baik aku mulia dalam kebutaan…daripada hina dalam kesaksian…
Hari ini… di satu-dua sisa desah nafasku …
ku saksikan Indonesia kita penuh luka…
anak cucu kita telah mewarisi…sambil menyayat-nyayatnya…
Menabur garam sesudahnya…
Semburat kata setinggi asa…
fakta laku terjerembab durja…
Bukan ! Ini terlalu asing…
Mereka bukan anak cucuku…Aku tidak mengenal mereka…
apa untuk makhluk seperti mereka kita merdeka Jendral?
mengawang aku menanti di bayang rotan ini…
generasi yang akan menjahit luka Negeri kita…
pengemban jiwa pejuang…bukan pecundang !
yang berbakti…tak pencuri…
Sia-siakah penantianku?
Jawab aku Jendral…jawab…
Hari ini…di satu-dua sisa sejarah hidupku…
berjalan aku gemetar…membaring aku terkapar…
terpaku kusaksikan ini semua…
sembari menunggu-nunggu menghadap-Nya…
Khairil Azhar, 26 April 2010
dahsyat !
BalasHapus