Rabu, 03 November 2010

Pengajianku ajib banget dah.....

Pendahuluan yang diberikan oleh Ustad Ikhsan adalah tentang kenapa ada Islam kontemporer. Bukankah ajaran Islam itu sudah sempurna? Apakah berarti ada penambahan seiring perkembangan zaman? Berarti bid’ah donk?

Jika ada pertanyaan seperti demikian, maka jawabannya adalah yang membuat Islam menjadi kontemporer bukanlah penambahan ajaranya, melainkan ijtihad dan penafsiran ajaran Islam sebagai solusi terhadap relita kekinian. Payungnya tetap Al-Quran dan sunnah yang tidak berubah seperti yang diwariskan Rosulullah Muhammad saw. Jadi jangan sampai kita memandang solusi Islam itu statis dan tidak bisa diterapkan sesuai perkembangan zaman karena ada ruang-ruang ijtihad yang terbuka selebar-lebarnya untuk menangani masalah kekinian, sekai lagi tanpa harus keluar dari Al-Quran dan Sunnah. (Islam mengajarkan cara berdakwah bukan 3+7=…, tetapi 10=…+… . Artinya, ada banyak jalan dalam berdakwah).

Rosul pernah ditanya tentang Ibadah apa yang paling afdol, dan Rosul menjawab sholat pada waktunya. Rosul juga suatu hari pernah ditanya tentang ibadah apa yang paling afdol, Rosul menjawab Berjihad. Artinya, Ibadah yang paling afdol adalah ibadah yang paling dibutuhkan sesuai dengan masalah yang paling urgen saat itu. Saat perang sedang berkecamuk dan saat hak-hak kaum Muslimin direnggut, ibadah yang paling afdol adalh merebut kembali hak-hak kaum Muslimin yang dirampas. Saat bencana alam di sana-sini sedang menerpa lingkungan kaum Muslimin, ibadah yang paling afdol adalah melakukan aksi bantuan ke daerah yang bersangkutan. Namun perlu diiperhatikan bahwa keafdolan ibadah tidak menggeser “nilai wajib-sunnahnya” suatu ibadah. Oleh sebab tiu, Kajian Islam Kontemporer bersifat visioner, lebih mengutamakan esensi dan tidak keluar dari As-sunnah.

Umat Islam adalah umatan washotan artinya umat pertengahan. Tidak terlalu ekstrim fundamental dan tidak pula terlalu bebas, karena agama diturunkan untuk memudahkan bukan menyulitkan. Semua batasan-batasan kehidupan sudah tercantum dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Dalam Islam mengenal kadar “boleh” dan “lebih baik”. Contohnya, mengenai kebolehan seseorang memakai barang yang lux. Jawabannya “boleh “saja asal tidak merendahkan orang lain dan disesuaikan dengan kondisi. Allah telah memberikan rizki sesuai kadarnya masing-masing dan Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan. Ketika kita bertemu dengan presiden maka hormatilah dia dengan penampilan yang baik, namun ketika kita berada dalam komunitas orang yang kurang mampu maka berpenampilanlah sewajarnya. Meskipun begitu, konsep kesederhanaan tetap “lebih baik “.

KESOMBONGAN ADALAH KEBODOHAN TERBESAR IBLIS


Al-Anfal 11-19
Pembangkangan iblis kepada Allah adalah pembangkangan pertama kali (jauh sebelum maksiat yang dilakukan Qabil terhadap Habil). Dari segi umur, manusia masih seperti anak kemarin sore, oleh Karena itu Iblis sangat mengetahui kelemahan anak Adam. Iblis mengetahui kelemahan anak Adam dari sisi kirinya, kanannya, atasnya, bawahnya, namun tidak dari segala penjurunya, karena ada satu sisi manusia yang tidak sanggup terjamah Iblis dan antek-anteknya, yakni keikhlasan. Artinya, orang-orang yang ikhlas adalah orang yang tidak mampu digoda Iblis.

Bisa kita bayangkan ma’rifah Iblis kepada Rabbnya sebelum terjadi fenomena pembangkangan yang luar biasa itu terjadi. Iblis adalah salah satu makhluk Allah yang disejajarkan dengan malaikat dan salah satu makhluk yang pernah melihat kebesaran Allah secara zohir dan diberi kesempatan berdialog langsung dengn Allah. Adakah kita “manusia super, zaman canggih” pernah mendapatkan itu semua?

Tapi apakah Ma’rifah Iblis bernilai di sisi Allah? Tentu tidak sama sekali. Karena ternyata kesombongan menggugurkan ma’rifah. Jangankan mendapat kemuliaan melalui ma’rifah Iblis kepada Allah, bahkan setelah muncul kesombongan dalam dirinya, Iblis menjadi makhluk paling hina. Sebab Iblis tidak mau sujud kepada Adam adalah karena Iblis merasa api lebih baik daripada tanah. Iblis telah terjebak dalam standard yangdibuatnya sendiri dan menjadikan dirinya lebih tinggi dari makhluk yang lain dan tidak mau menerima kebenaran. karena sombong menurut hadis adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.

Oleh karenanya, kita sebagai umat terbaik harus bisa mengambil pelajaran dari kesalahan terbesar yang pernah dilakukan Iblis. Jangan sampai kesombongan kita menjerumuskan kita ke derajat kehinaan di sisi Allah SWT (Na’udzubillahimindzalik).

Parameter kebaikan di sisi Allah hayalah ketaqwaan yang Allah saja yang bisa menilainya. Jangan pernah menilai ketaqwaan orang lain, apalagi sampai merasa ketaqwaan kita di atas orang lain karena itu adalah salah satu strategi Iblis untuk membangkitkan kesombongan kita.

Selain kesombongan, maksiat yang mendekati sombong adlaah “ujub”, yakni merasa besar dengan amalnya dan tidak memerlukan orang lain. Orang yang ujub termasuk dalam kategori Ghurur, yakni orang-orang yang tertipu. Salah satu menyiasati ujub adalah memahami bahwa takkabur adalah hal yang dilarang. Oleh sebab itu, ketika khatrah, bisikan yang terbesit yang tidak bisa dikuasai, telah muncul maka beristighfarlah dan berta’awuzlah.

Sabtu, 30 Oktober 2010

MEMBERSIHKAN KEMBALI “KERAH JAKET PEMUDA”


Tepat delapan dekade silam, yakni 28 Oktober 1928, pemuda berhasil mematrikan kebanggaan ke dalam jiwa bangsa Indonesia. Sebuah gerakan yang berusaha menyatukan Indonesia dalam satu tumpah darah, dalam satu bangsa, dan dalam satu bahasa. Suatu masa di saat Indonesia belum memiliki bentuk; terpecah belah oleh perbedaan etnik dan golongan, namun dengan idealismenya, pemuda yang tergabung dalam Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) kala itu berani membumikan sumpah setia pemersatu bangsa.


Sumpah yang diikrarkan dalam kongres pemuda II di Gedung Oost-Java Bioscoop Jakarta ini menjadi catatan bahwa pemuda kala itu bergerak dengan idealisme yang bersih dari ambisi pribadi dan hanya mengharapkan terbentuknya Indonesia yang satu. Sekali lagi, ini menjadi sebuah kebanggaan bagi seluruh rakyat Indonesia.



Ironis sekali, saat ini gerakan pemuda lebih banyak menuai cibiran ketimbang simpatik. Contoh kecil, ketika “aksi 20-10-10”, gerakan mahasiswa yang diwarnai dengan aksi saling melempar batu antara mahasiswa dengan pihak kepolisian dinilai terlalu berlebihan; lebih banyak menimbulkan ke-mudharat-an daripada kemanfaatan. Apalagi aksi sampai menelan korban luka-luka dari kedua pihak, bahkan salah seorang mahasiswa Universitas Bung Karno terpaksa harus menjalani operasi pengangkatan proyektil peluru akibat terkena tembakan polisi.


Fungsi kontrol mahasiswa yang seharusnya bernuansa intelek berubah bentuk menjadi anarkis yang melambangkan kerusakan dan kekerasan. Akibat kejadian ini, terciptalah “brand” baru, bahwa aksi mahasiswa identik dengan kerusuhan, kerusakan, kekerasan, bahkan tidak sedikit masyarakat yang berpendapat bahwa massa aksi adalah massa arahan oknum tertentu yang sengaja dibayar untuk mengobrak-abrik kestabilan pemerintahan. Meskipun hanya segelintir massa yang bertindak “lepas kontrol”, namun tindakan ini telah mencoreng “kerah jaket pemuda” secara keseluruhan di mata masyarakat.



Setidaknya, momen 28 Oktober ini bisa menjadi titik refleksi bagi pemuda akan sejarah perjuangan pendahulunya yang menjunjung tinggi intelektualitas dan tidak anarkis. Mari bersihkan kembali “kerah jaket pemuda” dari segala noda dengan belajar dari generasi 1928 yang meskipun bukan menggunakan jalan kekerasan, namun aspirasinya tetap terpatri dalam tubuh bangsa hingga saat ini. Kritik memang dibutuhkan untuk memperbaiki pemerintahan, namun bukan hanya itu, kontribusi untuk mendukung pemerintah dalam hal kebaikan dan pemikiran yang solutif juga tidak kalah dibutuhkan. Wajib pula bagi rakyat untuk mendoakan kebaikan bagi negara dan para pemimpinnya agar Indonesia yang lebih baik dan bermartabat segera terwujud.

Kamis, 19 Agustus 2010

Pendidikan adalah Wadah Pencetak Peradaban


"Wahai orang-orang yang ingin terbebas dari segala mara bahaya dan yang ingin beribadah dengan benar, kita harus membekali diri dengan ilmu . Sebab, beribadah tanpa bekal ilmu adalah sia-sia, karena ilmu adalah pangkal dari segala perbuatan. Hendaknya kita memusatkan perhatian dan pikiran hanya hanya untuk ibadah dan ilmu. Jika sudah demikian, kita akan menjadi kuat dan berhasil . Karena berpikir selain untuk ibadah dan ilmu adalah bathil dan sesat, hanya hanya akan menghancurkan dunia. (Imam Al-Ghazaly)


Betapa eksistensi sebuah negara sangat bergantung dengan orang-orang yang mengelolanya. Sebuah negara dengan peradaban yang tinggi dan bermartabat hanya akan terbentuk melalui tangan orang-orang berilmu. Dalam hal ini, dunia pendidikan merupakan dunia yang memiliki andil besar dalam mencetak orang-orang tersebut. Nah, Apa jadinya jikalau negara kita dipimpin oleh orang-orang yang tidak pernah mengecap pendidikan? Mungkin anak kita hanya akan mengetahui bahwa dulu di bumi ini pernah ada sebuah negara yang bernama Indonesia lewat buku-buku sejarah. Untuk itu, mari kita samakan persepsi dulu, bahwa pendidikan adalah sesuatu yang sangat penting dan senantiasa harus kita perhatikan.


Menilik potret pendidikan Indonesia saat ini, patutlah kita mengajukan pertanyaan sekali lagi, apakah tujuan pendidikan dan output pendidikan sudah seperti yang diharapkan. Faktanya, APBN yang dianggarkan sebesar 20% untuk pendidikan ternyata belum berdampak nyata bagi pemerataan pembangunan pendidikan Indonesia. Hak-hak yang diperoleh peserta didik di daerah Jakarta dengan di Irian Jaya masih jauh berbeda. Berikutnya, baru-baru ini pelajar SMA di Indonesia baru saja menerima hasil pengumuman Ujian Nasional. Jumlah peserta didik yang tidak lulus UN di tahun 2010 ini, yakni 154.079 siswa, bukanlah menjadi satu-satunya ukuran berhasil tidaknya para pelajar kita dalam menempuh pendidikan. Apakah proses dalam mengikuti Ujian Nasional sudah mencerminkan nilai-nilai pendidikan? Ironis sekali jika ternyata untuk mendapatkan sebuah nilai di atas kertas, pelaku pendidikan rela berbuat maksiat atau kecurangan. Konsekuensinya, korupsi pada saat ujian menjadi hal yang lumrah. Dikhawatirkan tindakan ini akan terus mengakar pada jiwa generasi yang akan memimpin negeri ini di masa depan. Ini barulah contoh kecil, ibarat gunung es yang bagian terbesarnya tidak terlihat di permukaan.


Mari kita telaah sejenak beberapa perspektif Al-Qur’an mengenai pendidikan. Allah meninggikan derajat manusia yang berilmu beberapa derajat dari orang yang tidak berilmu (Al-Mujadillah : 11). Allah berfirman dalam Q.S Adz-Zariyat : 56 yang artinya :

Tidak Ku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku”

Menuntut ilmu yang bermanfaat adalah salah satu bentuk ibadah kepada Allah. Jelas bahwa dalam beribadah kepada Allah diharamkan menyusupkan tindakan kemaksiatan. Oleh sebab itu, Islam dengan tegas melarang berlaku curang saat proses menuntut ilmu. Namun, jika kita saksikan sekarang ini, siswa bahkan mahasiswa masih banyak yang mencontek saat ujian. Tentu saja tidak ada lagi nilai-nilai ibadah yang mereka dapatkan, meskipun terlihat mereka sedang belajar.


Mengenyampingkan akhlaq dan moral serta hanya menomorsatukan nilai merah-biru di atas kertas dalam menuntut ilmu hanya akan melahirkan jiwa-jiwa hedonis. Sebuah mega peradaban hanya akan muncul dari tangan-tangan insan intelektual berakhlaqul karimah. Roda kehidupan akan selalu berputar. Yang di bawah tidak akan selalu di bawah. Tinggal masalah waktu yang akan menggulngkan fakta saat ini.

Fiksi Nyata : Pertemuan dengan Azmi (The Malingers Version)


Sebenarnya aku lupa kronologis pertemuan dramatis pertamaku dengan temanku yang nama amit-amitnya Ami ini. Mungkin karena pertemuan itu terlalu dramatis sehingga otakku tidak mempunyai folder khusus untuk menyimpan file sedramatis itu, bahkan recycle bin pun tidak mau menampungnya, jadi unrestoreable saat aku ingin menampilkannya kembali. Seolah-olah orang yang menyebut dirinya selalu bergaya mirip dengan Vino G. Bastian ini secara tiba-tiba menyelusup dalam kehidupanku dan mengambil posisi penting sambil terkekeh-kekeh dengan mulut berbusa di sana.


Aku salut dengan Azmi, di sela-sela kehidupan perkuliahan yang super sibuk, dengan wajah tanpa dosa sedikitpun dia selalu menyempatkan untuk mengajakku, Allva, dan Dodi melakukan hal yang menyenangkan. Contohnya, saat temen-temen yang lain sibuk dengan laporan mereka yang belum di-ACC, Azmi malah mengajak kami nge-net di Pusat Komunikasi kampus, dan yang paling sering kami lakukan di sana adalah ngobrol via chatting, padahal komputer kami tepat bersebelahan. Dan kata-kata yang paling sering beliau tanyakan adalah,”Ril, lagi ngapain kau?”. Subhanallah…


Dia juga kerap memperdengarkan kepada kami Face Down ---The Red Jumpsuit Apparasut--- yang terdengar semakin ganas setelah dibarengi dengan improvisasi ketukan mesin tik zaman kolonialisme Belanda yang kami punya. Iya, mesin tik inilah yang menjadi senjata utama untuk mengerjakan laporan praktikum kami yang serba menuntut. Bahkan suara yang ditimbulkannya mirip dengan suara brend guns yang menghipnotis kami ke peristiwa perang merebut kemerdekaan Republik Indonesia di zaman lawas kuadrat. Tentu saja Azmi mendengarkan musik punk rock-nya dengan style wajib, kepala mengangguk tiada henti dan mengerahkan tangan kiri diikuti formasi Ibu jari, telunjuk, dan kelingking mengacung ke atas dengan energik…yeaaah !!! Kami bertiga cuma mesem-mesem melihatnya.


Terkadang Azmi menghadapkanku pada pilihan yang benar-benar sulit. Contohnya, dia pernah mengajakku bermain futsal saat jam kuliah. Astaghfirullah…aku benar-benar tersudut kala itu. Meskipun akhirnya dengan sangat berat hati aku merelakan jam kuliahku tergadai di lapangan futsal setelah memastikan ada yang bakal meminjamkanku catatan kuliah hari itu *don’t try this at home^^.


Hingga hari itupun tiba. UTS tinggal 2 x 24 jam. Barulah “Si Agen Wajah tidak Berdosa ini” pusing berkelana dengan unta merahnya…eh..motor merahnya untuk mencari mangsa. Buku-buku catatan kawan yang memenuhi standar peminjamannya pasti langsung tergandakan. Sistem kebut dua malam pun tidak terelakkan. Aku bisa menebak ending story-nya, saat waktu ujian tinggal tinggal 1x24 jam, telepon genggamku pasti berdering,”Ril, besok kau di rumah? Besok pagi sebelum ujian aku berkunjung ke kosanmu ya….plis…ajarin…gak ada satupun yang masuk ke otakku bro.” Azmi and the genk ( The Malingers genk) selalu begitu. *bedanya kalau Dodi dan Allva memakai kata ganti “ane-antum” saat melobi ^^. Singkat cerita, kamar kos 3 x 2,5 m ku selalu sesak dengan jejalan penikmat SKS dan selalu penuh hentakan Face Down di sana. *Inilah sekelumit haru biru “si Wajah tidak Berdosa” ^^

Fiksi Nyata : Pengalaman pertama bertemu Allva (The Malingers Version)


Seperti biasa, kami pemuda botak dan pemudi tidak botak dikumpulkan di sekret himpunan mahasiswa untuk sekedar membenarkan tingkah norak senior-senior norak. Setiap hari kami serempak membacakan konstitusi konyol buah karya si fulan,“Pasal 1…Senior tidak pernah salah…Pasal 2..jika senior salah, kembali ke pasal 1…pasal 3…junior milik senior !” tuh apa ku bilang, norak banget kan? Kalimat barusan adalah kalimat yang membenarkan apa pun kesalahan dari senior, dan yang paling kelewatan adalah pasal 3. Ironis sekali bahwa kami, para junior yang masih polos ini harus rela dimiliki oleh senior-senior yang sudah tidak polos itu *lebay mode : ON ^^


Hari itu aku duduk bersebelahan dengan seorang pria berkacamata, berambut botak berombak-ombak, berpandangan tajam, dan sedikit gempal. Ada perasaan sedikit segan untuk berkenalan dengannya. Tapi ya namanya juga sesama muslim kan bersaudara,tak kenal maka ayo Ta’aruf. Akhirnya aku memberanikan diri untuk berkenalan dengan sosok pria serius ini, “Hey, namaku Khairil”. Dia balas seperlunya, menjabat tanpa menoleh,” Allva Arindya”. Wah, benar-benar profil pria yang serius, semakin segan saja untuk berkenalan lebih lanjut dengannya. Tapi aku berusaha membuat suasana jadi lebih cair,”mmm..kau asal SMA mana?”. Lagi-lagi dia balas dengan lebih singkat dan lebih pelan, seolah sangat menghemat kata-kata,”Smansa Tebing”. Aku masih terus mencoba merenyahkan suasana,” Hmmm, kawanku ada lho di sana, namanya Ilham, kau kenal dia gak?” “…” kali ini hening tanpa jawaban. Aku membatin wah, bener-bener ujian yang lumayan berat, aku harus satu jurusan dengan orang sedingin ini. Akhirnya aku memutuskan untuk memposisikan diri kembali menghadap depan, saat itu pula aku sadar bahwa para senior sudah melotot ke arah kami berdua. Aku baru sadar, ternyata Allva bukanlah tipikal orang sombong, bukanlah tipikal orang yang cuek, dingin, apalagi keren. Ternyata oh ternyata dia sedang ketakutan karena dipelototin senior. Ya Allah…betapa polosnya aku.


Walhasil aku digotong oleh senior yang dari tadi sudah seperti kuda lumping kesetanan. Lelaki gondrong dan kurus luar biasa itu bernama Ucok (nama samaran). Aku dibopong seperti ayam sakit ke laboratorium sebelah untuk dikarantina lebih lanjut. Di sana aku dikerjain habis-habisan oleh Ucok yang semoga Allah mengampuni dosanya. Katanya,”Eh boy, nanti kalau kau ku panggil ‘Khairiiil’…kau harus maju ke depan kawan-kawanmu sambil goyang gergaji ya” katanya dengan wajah licik sambil bergoyang ala artis dangdut tidak berpapan itu (tadinya sih papan atas, tapi karena terkena goyang gergaji, papannya jadi hancur berkeping-keping…halah ^^). Jujur, saat itu aku mau muntah lihat Ucok bergoyang seperti gitu, persis seperti banci dangdutan. Aku hanya diam seolah tak percaya, seakan langit runtuh menimpa wajahku.


Karena tidak ada perlawanan yang berarti dari ku, akhirnya aku dikembalikan ke tempat kawan-kawanku yang lain berkumpul. Seperti biasa, di ruangan itu mereka sedang dibentak-bentak. Tiba-tiba dari arah pintu Ucok langsung teriak dengan nada pasti,” Khairiiiiil”. Aku masih duduk terpaku,”Wah, dasar kampret nih orang” batinku. Dari sebesar botol sampe setinggi tiang PLN gini aku belum pernah goyang dangdut, apalagi yang jenis sharp-skill seperti goyang gergaji dan ngebor. Terlebih lagi dari dulu aku gak pernah suka sama aliran bang Rhoma ini. Astaghfirullah…”makan dah tu gergaji ! Sampe rambut 2 centiku jadi 2 kilometer juga aku gak bakal mau”, batinku masih ngomel tidak karuan. Dipanggilnya lagi “Khairiiiil !!!!”. Tetap aku tidak bergeming. Lantas dia datang ke arahku (yang masih botak saat itu) dengan langkahnya yang pongah. “Kau melawan ya Boy? Dah hebat kau rupanya?” bentakannya menyapu rambut jarum 2 cm ku. Aku menjawab lirih “enggak bang…”. “Bah…melawan kau ya…sok hebat kali kalian semua ya ?!” kawan-kawanku jadi ikut-ikutan kena batunya. Semua senior pada teriak-teriak gak jelas sambil menendang pintu lemari dan pintu di ruangan sempit itu. Jelas suara mereka memantul-mantul dan masuk ke telinga kami dengan frekwensi yang tidak nyaman di dengar.


Berang juga rasanya. Tapi ya, badai pasti berlalu. Coba tarik hikmah dibalik perbuatan mereka. Setidaknya dari sana aku berazzam bahwa aku tidak akan pernah memperlakukan adik-adikku seperti apa yang mereka lakukan kepada kami. Itulah kisah pertemuan berdarah ku dengan Allva…sungguh tragis.

Fiksi Nyata : Pengalaman pertama bertemu Dodi (The Malingers Version)



Seperti yang telah terjadwal, hari ini adalah hari pertama kami selaku mahasiswa baru untuk bertemu dengan penjagal, eh salah, abang dan kakak senior maksudnya. Aku yang berasal dari Tinjowan, sebuah desa kecil nan permai di ujung utara provinsi palm oil ini bener-bener tidak punya teman di Medan yang bisa diajak ngobrol kecuali seorang teman SMA ku yang bernama Daniel ---belakangan lebih sering disebut Rian karena potongan wajahnya agak mirip dengan seorang vokalis di salah satu band kondang Indonesia ,apakah D’Passive atau D’aktive aku kurang paham…yang jelas dia bukan dari Jombang---. Ya Alhamdulillah kami diterima di jurusan yang sama. Tapi karena kami berdua sama-sama buta arah, ya jadilah pertemuan kami tidak bermakna.


Siang itu cukup panas, namun sinar matahari tidak bisa seenaknya menyengat karena harus berhadapan dengan barisan tepi-tepi dedaunan kelapa sawit tempat kami bernaung. Semua mahasiswa baru di Fakultas Pertanian hari itu dikumpulkan perjurusan untuk dibantai dan dimutilasi, kemudian dagingnya dikumpulkan dan dihancurkan dalam mesin penggiling, hingga akhirnya dijadikan pupuk organik (lho?). Bukan, kami dikumpulkan untuk sekedar perkenalan dan temu perdana. “Dek…keluarkan selembar kertas dan tulis biodata kalian ya, abis itu kumpulin ke abang” Ceracau salah satu senior kami dengan suara khas serak-serak basahnya. Spontan aku keluarkan pulpen dan secarik kertas binder yang aroma barunya semerbak kemana-mana.

Tiba-tiba dari lini kiri ada yang colek-colek. “Eh bang, punya pulpen dua gak? pinjem lah” ku tolehkan muka dan ternyata suara keriting itu keluar dari kerongkongan seorang berwajah pucat pasi dan berpipi tirus yang rambutnya ikut-ikutan keriting kayak suaranya. Sambil tersenyum-senyum secara tidak jelas dan entah apa maksud dari senyuman itu, dia kembali mencolekku. Ih, daripada colekan itu berlanjut hingga ba’da Isya, lebih baik aku segera memberikan barang yang dituntutnya. Baru setelahnya kami berdua berjabat tangan, “Dodi.” “Oh, saya Khairil, cukup panggil Iril saja”. * Sejarah ukhuwah kami pun bermula dari sini.

(Setelah menulis ini aku baru ngeh, ternyata sampai sekarang si Dodi belum ngembaliin pulpenku…Dasaaaar maling…ers).

Petak Fikiran Pejuang Veteran


Hari ini… di satu-dua sisa usiaku…
masih nyata terbenak…
bidangnya bahuku memanggul senjata…
masih nyata terdengar…
kecipak geliat tubuhku menyeruak lumpur rawa baya…


“Cepat!!! Atau kalian akan mati tertembak…!!!!
Pasti indah melihat anak cucu kalian mewarisi negeri ini… !!!”

Membahana komando garda depan…
Itu jeritan iming-iming sang Jendral…
tak ayal…semakin gesit merayap…
semakin licin aku melata…
bak sura memburu baya…
yang menyeringai menikmati pertempurannya…
Kita pasti menang…kita pasti merdeka…
Merdeka bersama iming-imingmu Jendral…



Hari ini…di satu-dua sisa degub jantungku…
aku telah meraih iming-imingmu…
Dulu… sebelum meriam penjajah memisah-misah badanmu….
ada baiknya kau habisi aku dulu…
harusnya aku yang menggantikan posisimu menerjang hujan peluru…
atau kau tembak kedua mataku dulu Jendral !
lebih baik aku mulia dalam kebutaan…daripada hina dalam kesaksian…

iming-imingmu terlalu indah menari-nari di dalam petak fikiranku…

Hari ini… di satu-dua sisa desah nafasku …

ku saksikan Indonesia kita penuh luka…

anak cucu kita telah mewarisi…sambil menyayat-nyayatnya…

Menabur garam sesudahnya…

Semburat kata setinggi asa…

fakta laku terjerembab durja…

Bukan ! Ini terlalu asing…

Mereka bukan anak cucuku…Aku tidak mengenal mereka…
apa untuk makhluk seperti mereka kita merdeka Jendral?

mengawang aku menanti di bayang rotan ini…
generasi yang akan menjahit luka Negeri kita…
pengemban jiwa pejuang…bukan pecundang !
yang berbakti…tak pencuri…
Sia-siakah penantianku?
Jawab aku Jendral…jawab…

Hari ini…di satu-dua sisa sejarah hidupku…
berjalan aku gemetar…membaring aku terkapar…
terpaku kusaksikan ini semua…
sembari menunggu-nunggu menghadap-Nya…

Khairil Azhar, 26 April 2010

Man jadda wa jada (pemateri : Ahmad Fuadi)


Malam itu adalah malamnya pemuda Maninjau. Ahmad berkisah banyak tentang pengalaman hidupnya dari A-Z. Seluruh peserta seminar hanya bisa menjadi pendengar budiman. Ahmad mengatakan bahwa latar belakang seseorang bukanlah penentu masa depan seseorang, tetapi siapa yang bersungguh sungguh pasti akan mendapat “manjadda wa jada” karena Allah Maha Mendengar. Belum lama setelah Ahmad menyebutkan kalimat itu, dia mengajak peserta seminar untuk meneriakkannya bersama-sama. Ruangan yang tadinya hening itu berubah menjadi seperti gedung parlemen yang didemo mahasiswa. “Manjadda wa jada!!! Manjadda wa jada!!!”.

Ahmad bercerita tentang awal kehidupannya di sebuah pesantren di Gontor dan bagaimana dia diwajibkan berbahasa Arab dan Inggris di sana. Secara dangkal dan lesu dia menyimpulkan bahwa masa depan dirinya telah tergambar sebagai seorang penceramah di pengajian-pengajian. Tapi Wallahua’lam bi shawab siapa yang menyangka bahwa setelah menamatkan studinya di pesantren, dia diterima di Universitas Padjajaran dan berhasil diterima sebagai wartawan Tempo. Bukan hanya itu, dia berhasil keliling dunia dan bekerja di Pentagon USA. Hingga saat ini, dia berhasil menulis sebuah novel tentang hidupnya yang berjudul “Negeri Lima Menara” yang sukses menembus best seller nasional. Setelah sukses dalam bentuk buku, tidak lama lagi novel ini akan dirilis sebagai sebuah film dan akan segera mewarnai layar kaca Indonesia. Yang lebih luar biasa lagi, ternyata Ahmad adalah seorang sosiopreneur. Keuntungan yang dia dapat dari novel “Negeri Lima Menara” disumbangkan untuk masyarakat yang kurang mampu hingga untuk pembangunan sekolah. Dia mengaku akan meneruskan membuat Novel dan Ahmad meminta doa dari peserta seminar agar novel yang akan ditulisnya bisa sukses seperti novelnya yang sebelumnya.

“Semua itu tidak akan tercapai jika amak tidak memaksa saya untuk meneruskan studi ke Pesantren”, paparnya. Bukan berarti lulusan pesantren harus menjadi seorang guru pengajian, bukti nyatanya bukan Ahmad saja. Ternyata "shohibul menara", teman-temannya semasa di pesantren dulu, juga sukses bekerja di luar negeri. Sekali lagi Ahmad menekankan,”Siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapat, karena Allah maha Mendengar. Manjadda wa Jada”!

Melejitkan Potensi Kepemimpinan (Pemateri : Reza M. Syarif)


“Perasaan seseorang biasanya tergambar dari apa yang ia ekspresikan. Dalam dunia nyata, seseorang yang tertawa terbahak-bahak hampir dapat dipastikan sedang merasa rileks dan bahagia. Sedangkan orang yang menangis dan berwajah muram juga hampir bisa dipastikan sedang memiliki mood yang jelek. Oleh sebab itu tertawalah, bergeraklah dengan lincah, pancarkan energi kebahagiaan dalam diri anda, ajak diri anda bahagia lewat gerakan yang anda lakukan”. Musik pun digaungkan, peserta diinstruksikan untuk saling memijit pundaknya satu sama lain seirama musik ceria yang digaungkan di ruang pertemuan. Sesekali seluruh peserta dikomandoi meneriakkan jargon,”wisdom, wisdom, wisdom…wuuuuuuu yees!!!!”. Seluruh peserta yang tadinya kelelahan karena sudah harus beraktivitas penuh sejak pukul 04.00 pagi sontak kembali ceria serentak meriuhkan ruang segi empat itu. Entah darimana energi baru itu muncul, sepertinya teori yang dicetuskan pemateri diawal tadi mulai menunjukkan reaksi nyata.

Tidak hanya itu, pemateri kemudian membagi-bagi wasiat rahasia kepada peserta motivasi malam itu. “ Open your head, open your hand, open your heart, and let’s say,’what can I do for you’?”. Apa yang bisa saya bantu? Itulah kalimat yang seharusnya terucap dari seseorang pemimpin umat. Seorang pemimpin ibarat seekor rajawali berumur 40 tahun yang sedang melepas paksa kuku dan paruhnya untuk mendapat kuku dan paruh baru yang lebih kuat. Pemimpin harus rela menghadapi sakit yang luar biasa untuk menjadi sosok baru yang diharapkan. Seorang pemimpin jangan pernah berfikir betapa sulitnya dan sakitnya ia hidup di dunia, tapi berfikirlah betapa indahnya akhirat yang disediakan untuk dirinya.

Beliau mendifinisikan kata “LEAD” sebagai berikut :
• Beat : Perbanyak jam terbang ; habitual action
• Feat : Are you risk taker? Menikmati kesulitan paling awal dan paling banyak, menikmati kebahagiaan paling akhir.
• Head : Visioner, cepat melihat dan menganalisis permasalahan yang tidak bisa dilihat oleh orang pada umumnya.
• Read : Upgrade capacity

Tiga kunci untuk meningkatkan kapasitas kepemimpinan kita menurut beliau ada tiga kunci utama :
• Appierence (Penampilan) : Have uniqueness
• Attitude (Sikap) : Pro aktif dan proporsional thinking
• Achievement (Prestasi)
Terakhir kali beliau men-sharekata-kata bijaknya dalam bahasa Inggris yang fasih :
“ No matter how big obstacles, I have to face it, but in fact I believe that how beauty picture of life is”.

Guru Olahraga SD ku…Wow…Incredible

“Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat”. Setidaknya itu yang ku dapat dari guru olahraga perdana ku (inisial Asn.) di SD 091705 kala era Orde Baru dulu. Kalimat itu selalu didengung-dengungkan setidaknya seminggu sekali di jam Olahraga pagi sebelum penghapus kayu menghantam kuku-kuku kotor kami. Berlebihan pikir kami, tapi itulah beliau. Kepeduliannya bahkan menulusur hingga ujung jari murid-muridnya. Iya, beliau adalah guru olahraga yang tanpa kompromi terhadap kesehatan murid-muridnya, meskipun kadang hukuman beliau sedikit menyakitkan. Murid yang tidak bersemangat ikut senam “Ini Dia Si Jali-Jali” harus rela mendapat cubitan mesra nan berdenyut-denyut dari beliau. Seolah-olah kesehatan telah menempati ranking teratas dalam rating diantara slogan-slogan lain beliau yang berjejal.

Belakangan, setelah 12 tahun reformasi bercokol di Indonesia, ku balik-balik majalah yang ku beli di Mesjid Al-Hurriyyah IPB ba’da sholat jum’at. Eh, ku temukan sebuah artikel menarik yang di dalamnya terdapat karakter muslim impian versi Ustadz Hasan Al-Banna. Ada sepuluh karakter, namun yang menjadi sorotanku adalah sang ustadz menempatkan “Qowiyyul jismi / kuat fisiknya” di urutan pertama. Wah, flash back ke zaman “Ini Dia Si Jali-Jali”, ternyata guru olahragaku punya jalan pikiran yang sama dengan ulama kaliber dari Mesir yang syahid 4 tahun setelah Indonesia lepas dari kuku-kuku kotor penjajah. Menyelami lebih lanjut, guruku kan seorang ibu-ibu yang kerjanya beli cabai dan bawang di pasar? Kok bisa ya?

Sebenarnya yang ingin disampaikan bukan bagaimana bisa ibu guru Olahragaku punya paradigma yang sama dengan Imam Hasan Al-Banna (jadi judulnya sama sekali tidak nyambung). Tapi poin urgen yang ingin di bahas adalah betapa pentingnya hidup sehat dan memiliki fisik yang kuat, salah satu sarananya yakni dengan berolahraga. Poin ini pula yang sering terlupa atau malas untuk dilakukan oleh pemuda/i muslim, terlebih bagi kalangan akademisi. Kalau kata orang Medan,” Otak encer-encer, tapi badannya letoy semua, apa kata dunia?”.

Semua tahu bahwa olahraga membuat sirkulasi darah semakin lancar beredar ke seluruh jaringan dan organ tubuh, membuat otot dan persendian kuat dan tidak kaku, serta stamina jadi “ngejreng”, tapi semua beramai-ramai bersemboyan, “Ayo Malas Olahraga” …(huh..dasar generasi payah). Oleh sebab itu, agar olahraga tidak terasa berat, tidak usah buat targetan yang “unbelieveble. Misalnya paket 100. Keliling lapangan bola 100 kali, push-up dan adik-adiknya (Sit-up,back-up) masing-masing 100 kali, dan senam 100 tahun (lebay dah). Selain itu coba olahraga yang menyenangkan, sesuai hobi, dan tidak monoton. Misalnya berenang, mendaki gunung, sepak bola, bersepeda, dsb. Jangan segan juga mencari partner yang sevisi, yakni menjadi muslim dengan fisik yang tidak lemah.

Padahal nabi kita adalah seseorang yang sangat kuat. Pernah beliau berduel dengan Rukanah, bisa dibilang seorang pegulat waktu itu. Di kali ketiga perduelan mereka, Rukanah mengakui bahwa nabi Muhammad s.a.w benar-benar utusan Allah (Wah, salut dah buat Rosulullah). Selanjutnya, Rosul pernah diminta para sahabat saat menggali parit untuk memecahkan batu keras dan hitam yang tidak bisa dipecahkan oleh orang-orang kuat dan kapak mereka ( Wow… nge-fans banget dah aku pokoknya). Rosulullah bersabda,”Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah ketimbang Mukmin yang lemah (H.R Muslim)”. Tunggu apa lagi coba? Olahraga yuk…

Rabu, 18 Agustus 2010

RESUME FIQIH PUASA (Dr. Yusuf Qardhawi)

Puasa merupakan bentuk ibadah yang sudah dikenal oleh orang-orang, jauh sebelum nabi Muhammad s.a.w menerima risalah kenabian. Hanya saja ketentuan dan tata caranya semakin mengerucut pada ketentuan Islam yang sudah tentu lebih sempurna dan relatif lebih ringan daripada ibadah puasa yang dilakukan oleh orang-orang sebelumnya.

Puasa memiliki esensi dan hikmah yang sangat berarti bagi penyucian jiwa seorang mukmin. meninggalkan kebiasaan yang disenangi dan menangguhkan pemenuhan kebutuhan pokok bukanlah perkara mudah bagi seseorang dengan iman yang rapuh. Karena esensi puasa bukanlah sekedar tidak makan dan minum. Melainkan meninggalkan keinginan, mengekang nafsu, menekan syahwat, menjaga lidah, pandangan, pendengaran, dan seluruh anggota tubuh dalam menjauhi maksiat hanya untuk Allah swt. Oleh sebab itu, tidak heran jika Allah berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 183 bahwa output seseorang yang sukses dalam puasanya adalah taqwa.

Salah satu puasa fardhu ‘ain adalah puasa Ramadhan. Puasa Ramadhan diwajibkan bagi umat Islam sejak tahun kedua Hijriah. Meskipun puasa Ramadhan merupakan salah satu pilar agama yang wajib ditegakkan, namun Allah memberi hak keringanan kepada umat Islam dengan mewajibkan Puasa Ramadhan secara bertahap. Tahap petama adalah pilihan. Umat Islam diberi pilhan apakan ingin berpuasa atau membayar fidyah. Setelah umat Islam sudah terbiasa dengan itu semua, barulah puasa ramadhan diwajibkan dan toleransi dihapuskan bagi yang tidak memiliki uzur.

Allah Maha Adil. Dia mewajibkan makhluknya berpuasa ramadhan pada bulan Qomariah yang secara sunatullah berubah-ubah setiap musim. Dengan berganti-gantinya musim, maka seorang muslim dituntut untuk memurnikan ketaatannya dalam kondisi apapun, baik saat panas menyengat, saat dingin menggigit, saat siang yang sangat panjang, bahkan siang yang pendek.
Penentuan masuknya 1 Ramadhan pertanda puasa dimulai pada zaman Rosul ditentukan melalui Ru’yah. Yakni melihat hilal (bulan sabit) yang disaksikan oleh beberapa orang ataupun seorang yang dianggap adil dengan mata kepala. Namun, Islam tidak mengekang pemeluknya dalam hal pemanfaatan teknologi untuk menentukan kebenaran. Semakin berkembangnya zaman dan ditemukannya alat-alat canggih didukung pula semakin banyaknya ahli astronomi muslim, maka penentuan munculnya hilal dapat ditentukan dengan lebih tepat dan dapat dijelaskan secara eksak. Oleh sebab itu, penentuan masuknya 1 Ramadhan saat ini bukan lagi menggunakan mata yang sarat dengan kekeliruan, namun dengan cara hisab bintang menggunakan alat canggih dan perhitungan yang akurat. Namun yang menjadi poin penting adalah harus ada kesatuan keputusan masuknya 1 Ramdhan di sebuah Negara dalam satu geografis. Keputusan ini hendaknya dipercayakan kepada pihak yang ditunjuk secara resmi dalam menentukan hilal dalam sebuah negara. Meskipun ada kemungkinan kekeliruan, umat haruslah taat dalam keputusan yang satu sebagai simbol persatuan umat Islam, hal ini merupakan ketaatan kepada ynag ma’ruf. Karena kekeliruan dalam hal ijtihadiyah dimaafkan.

Ulama bersepakat bahwa tidak ada kewajiban berpuasa bagi seorang non-Muslim, Muslim yang belum baligh, Muslim yang gila atau hilang akal, serta memiliki uzur seperti sakit, safar (dalam perjalanan), haid dan nifas, orang yang diancam, merasa sangat kelaparan dan kehausan, dan takut binasa.

Seorang anak yang belum baligh tidaklah mendapatkan kewajiban beribadah, termasuk puasa. Namun, menjadi kewajiban orang tua untuk mendidik dan membiasakan anak beribadah semenjak usia dini dengan penuh kasih sayang. Akan sangat sulit bagi sorang muslim untuk melaksanakan ibadah jika baru dimulai sejak usia baligh karena ini merupakan hal baru baginya. Oleh sebab itu, anak haruslah diberi pengajaran dan pemahaman tentang pentingnya beribadah hanya kepada Allah dan tata caranya sejak menginjak usia tujuh tahun. Tiga tahun setelahnya,setelah sepuluh tahun, jika anak belum juga menunjukkan tanda-tanda mau mengerjakan ibadah, maka orang tua boleh memukulnya. Namun, memukul dibolehkan hanya dalam keadaan darurat dan tidak boleh menyakitkan. Karena yang lebih utama adalah meneladani Rasulullah. Beliau tidak pernah memukul makhluk hidup dengan tangannya.

Orang yang kehilangan akal juga tidak diberi kewajiban menjalankan ibadah puasa. Karena kewajiban yang disyariatkan Islam hanyalah bagi orang yang taklif. Qadha berlaku bagi orang yang kehilangan akal karena pingsan sementara. Namun untuk orang yang pingsan dalam waktu yang lama hingga berbulan-bulan atau bertahun-tahun, qadha tidak disyariatkan karena memberatkan, sementara Islam ditujukan bukan untuk memberatkan pemeluknya.

Orang yang sedang melakukan perjalanan tidak pula tersentuh kewajiban berpuasa. Mengenai mana yang lebih utama apakah berbuka atau tetap berpuasa selama perjalanan, jawabannya adalah pilihlah yang paling mudah. Berbuka lebih utama jika berpuasa dirasa berat atau kondisi membuatnya cenderung lebih bermanfaat. Berpuasa menjadi lebih baik jika sesorang merasa mampu dan khawatir merasa berat ataupun malas mengganti di bulan yang lain.

Wanita memiliki zona yang tidak tersentuh oleh laki-laki, contohnya haid, nifas, mengandung, melahirkan, dan menyusui. Saat wanita haid atau nifas, puasa diharamkan. Allah sangat mencintai hamba-Nya yang bertaqwa, pengharaman ini merupakan rahasia Allah. Secara kesehatan tidak berpuasa saat haid dan nifas bermanfaat untuk memelihara kondisi tubuh dan syarafnya. Untuk wanita yang talah menikah dan berketurunan, ulama kontemporer memperbolehkan mengkonsumsi obat penunda haid saat ramdhan. Dasarnya adalah, semua perbuatan selain ibadah adalah halal, kecualai ada dalil yang mengharamkannya. Sedangkan pada saat hamil atau menyusui, berbuka sangat dianjurkan karena apa yang dilakukan oleh seorang ibu juga sangat berpengaruh bagi kesehatan bayinya. Hanya saja, untuk kehamilan dengan tenggang waktu sedikit, seperti yang dialami oleh seorang wanita di zaman dahulu, maka tidak wajib meng-qadha sholat dan tidak wajib membayar fidyah. Sedangkan untuk seorang ibu yang kehamilannya memiliki rentang waktu yang lama antara kehamilan yang satu dengan yang berikutnya, wajib membayar fidyah.

Orang sakit juga mendapat dispensasi dari Allah untuk tidak berpuasa. Berbuka lebih utama jika dengan berpuasa akan membuat seseorang merasa menderita, atau menunda kesembuhan, atau memperparah kondisi penderita. Namun, berpuasa diperbolehkan jika penderita merasa sanggup dan merasa berat untuk mengganti puasa di bulan-bulan lain.

Orang sakit yang tidak memiliki harapan sembuh dan orang yang sudah tua dan lemah diwajibkan membayar fidyah tanpa harus berpuasa. Jika penderita sakit akhirnya meninggal, maka tidak diwajibkan bagi ahli waris untuk membayarkan fidyahnya, melainkan secara sukarela terkecuali si mayit telah menuliskan wasiat untuk melunasi hutang-hutangnya.

Niat berpuasa tidak harus diucapkan dengan lisan. Bagi seorang muslim yang sudah terbiasa mengerjakan puasa, niat muncul otomatis dan sudah tergambar dari dirinya dengan mempersiapkan diri, mempersiapkan berbuka, dan mempersiapkan sahur. Niat tidaklah terpatok menit dan detiknya seperti yang kebanyakan dilakukan oleh umat saat ini, melainkan tidak memberatkan. Asal fajar belum terlihat kira-kira 50 ayat sebelum azan subuh , seseorang masih diperbolehkan makan dan minum. Saat menjalani puasa, mendahulukan berbuka dan mengakhirkan sahur adalah prilaku yang dicontohkan rosul.

Selain puasa fardu, ada pula puasa yang disunahkan, yakni puasa enam hari di bulan syawal, puasa Sembilan zulhijjah dan hari arafah, puasa hari asyura dan tasu’a, puasa di bulan sya’ban, puasa di bulan-bulan haram, puasa tiga hari setiap bulan, puasa senin-kamis, serta puas Nabi Daud, berpuasa sehari dan berbuka sehari. Puasa sunah sangat dianjurkan untuk disempurnakan seperti ibadah-ibadah sunah lainnya kecuali haji dan umrah.
S
elain itu, adapula ibadah yang dimakruhkan bahkan diharamkan. Puasa yang dimakruhkan antara lain adalah puasa setiap hari tanpa sela (puasa dahr), menkhususkan puasa di hari Jum’at atau sabtu, dan mengkhususkan bulan Rajab untuk berpuasa. Sedangkan puasa yang diharamkan adalah puasa di hari raya, puasa di hari-hari tasyrik, puasa sunah dengan konsekuensi merampas hak atau menzalimi orang lain, puasa seorang istri tanpa izin suami, menjadikan dalih berpuasa agar bisa mengabaikan tugas dan kemaslahatan orang lain, serta puasa-puasa bid’ah seperti puasa yang dikhususkan pada tanggal 12 Rabiul Awal, puasa khusus tanggal 27 Rajab, dan puasa hari nisyfu sa’ban.

Ketentuan-ketentuan di atas adalah salah satu bentuk kasih sayang Allah untuk mengangkat hambanya ke derajat tertinggi, yakni derajat taqwa. Ramadhan adalah pendidikan gratis yang ditawarkan Allah setiap tahun. Oleh sebab itu, sangat rugi bagi orang-orang yang melewatkan Ramadhan begitu saja tanpa ada perubahan sedikitpun dalam dirinya.

bosch dishwashers