Rabu, 03 November 2010

Pengajianku ajib banget dah.....

Pendahuluan yang diberikan oleh Ustad Ikhsan adalah tentang kenapa ada Islam kontemporer. Bukankah ajaran Islam itu sudah sempurna? Apakah berarti ada penambahan seiring perkembangan zaman? Berarti bid’ah donk?

Jika ada pertanyaan seperti demikian, maka jawabannya adalah yang membuat Islam menjadi kontemporer bukanlah penambahan ajaranya, melainkan ijtihad dan penafsiran ajaran Islam sebagai solusi terhadap relita kekinian. Payungnya tetap Al-Quran dan sunnah yang tidak berubah seperti yang diwariskan Rosulullah Muhammad saw. Jadi jangan sampai kita memandang solusi Islam itu statis dan tidak bisa diterapkan sesuai perkembangan zaman karena ada ruang-ruang ijtihad yang terbuka selebar-lebarnya untuk menangani masalah kekinian, sekai lagi tanpa harus keluar dari Al-Quran dan Sunnah. (Islam mengajarkan cara berdakwah bukan 3+7=…, tetapi 10=…+… . Artinya, ada banyak jalan dalam berdakwah).

Rosul pernah ditanya tentang Ibadah apa yang paling afdol, dan Rosul menjawab sholat pada waktunya. Rosul juga suatu hari pernah ditanya tentang ibadah apa yang paling afdol, Rosul menjawab Berjihad. Artinya, Ibadah yang paling afdol adalah ibadah yang paling dibutuhkan sesuai dengan masalah yang paling urgen saat itu. Saat perang sedang berkecamuk dan saat hak-hak kaum Muslimin direnggut, ibadah yang paling afdol adalh merebut kembali hak-hak kaum Muslimin yang dirampas. Saat bencana alam di sana-sini sedang menerpa lingkungan kaum Muslimin, ibadah yang paling afdol adalah melakukan aksi bantuan ke daerah yang bersangkutan. Namun perlu diiperhatikan bahwa keafdolan ibadah tidak menggeser “nilai wajib-sunnahnya” suatu ibadah. Oleh sebab tiu, Kajian Islam Kontemporer bersifat visioner, lebih mengutamakan esensi dan tidak keluar dari As-sunnah.

Umat Islam adalah umatan washotan artinya umat pertengahan. Tidak terlalu ekstrim fundamental dan tidak pula terlalu bebas, karena agama diturunkan untuk memudahkan bukan menyulitkan. Semua batasan-batasan kehidupan sudah tercantum dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Dalam Islam mengenal kadar “boleh” dan “lebih baik”. Contohnya, mengenai kebolehan seseorang memakai barang yang lux. Jawabannya “boleh “saja asal tidak merendahkan orang lain dan disesuaikan dengan kondisi. Allah telah memberikan rizki sesuai kadarnya masing-masing dan Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan. Ketika kita bertemu dengan presiden maka hormatilah dia dengan penampilan yang baik, namun ketika kita berada dalam komunitas orang yang kurang mampu maka berpenampilanlah sewajarnya. Meskipun begitu, konsep kesederhanaan tetap “lebih baik “.

KESOMBONGAN ADALAH KEBODOHAN TERBESAR IBLIS


Al-Anfal 11-19
Pembangkangan iblis kepada Allah adalah pembangkangan pertama kali (jauh sebelum maksiat yang dilakukan Qabil terhadap Habil). Dari segi umur, manusia masih seperti anak kemarin sore, oleh Karena itu Iblis sangat mengetahui kelemahan anak Adam. Iblis mengetahui kelemahan anak Adam dari sisi kirinya, kanannya, atasnya, bawahnya, namun tidak dari segala penjurunya, karena ada satu sisi manusia yang tidak sanggup terjamah Iblis dan antek-anteknya, yakni keikhlasan. Artinya, orang-orang yang ikhlas adalah orang yang tidak mampu digoda Iblis.

Bisa kita bayangkan ma’rifah Iblis kepada Rabbnya sebelum terjadi fenomena pembangkangan yang luar biasa itu terjadi. Iblis adalah salah satu makhluk Allah yang disejajarkan dengan malaikat dan salah satu makhluk yang pernah melihat kebesaran Allah secara zohir dan diberi kesempatan berdialog langsung dengn Allah. Adakah kita “manusia super, zaman canggih” pernah mendapatkan itu semua?

Tapi apakah Ma’rifah Iblis bernilai di sisi Allah? Tentu tidak sama sekali. Karena ternyata kesombongan menggugurkan ma’rifah. Jangankan mendapat kemuliaan melalui ma’rifah Iblis kepada Allah, bahkan setelah muncul kesombongan dalam dirinya, Iblis menjadi makhluk paling hina. Sebab Iblis tidak mau sujud kepada Adam adalah karena Iblis merasa api lebih baik daripada tanah. Iblis telah terjebak dalam standard yangdibuatnya sendiri dan menjadikan dirinya lebih tinggi dari makhluk yang lain dan tidak mau menerima kebenaran. karena sombong menurut hadis adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.

Oleh karenanya, kita sebagai umat terbaik harus bisa mengambil pelajaran dari kesalahan terbesar yang pernah dilakukan Iblis. Jangan sampai kesombongan kita menjerumuskan kita ke derajat kehinaan di sisi Allah SWT (Na’udzubillahimindzalik).

Parameter kebaikan di sisi Allah hayalah ketaqwaan yang Allah saja yang bisa menilainya. Jangan pernah menilai ketaqwaan orang lain, apalagi sampai merasa ketaqwaan kita di atas orang lain karena itu adalah salah satu strategi Iblis untuk membangkitkan kesombongan kita.

Selain kesombongan, maksiat yang mendekati sombong adlaah “ujub”, yakni merasa besar dengan amalnya dan tidak memerlukan orang lain. Orang yang ujub termasuk dalam kategori Ghurur, yakni orang-orang yang tertipu. Salah satu menyiasati ujub adalah memahami bahwa takkabur adalah hal yang dilarang. Oleh sebab itu, ketika khatrah, bisikan yang terbesit yang tidak bisa dikuasai, telah muncul maka beristighfarlah dan berta’awuzlah.

bosch dishwashers